Terlambat
Terlambat
Hanya kata itu yang bisa aku ucapkan diantara duri-duri yang tertancap dihati
Duri beracun yang hanya akan merusak ladang dihati
Ingin sekali aku kembali
Kembali seperti bayi suci yang tak ada satu tetes pun noda dihati
Yang tak mengerti apa itu salah dan apa itu sakit
Sakit
Bukan sakit biasa yang kurasakan
Bukanlah sakit yang teramat sakit
Namun..
Sakit ini..
Adalah sakit menahan malu
Malu atas hati ini yang tak mampu menanamkan benih mawar
Ditaman hatinya yang tandus
Kini taman itu telah terisi oleh bunga bangkai
Bunga yang terlihat indah dari nan jauh
Namun sejatinya hanya memberikan kepedihan
Bunga yang baunya teramat busuk
Hingga membuat tanah yang subur menjadi tandus kembali
Namun aku sadar..
Tuhan memang adil!
Waktu bukanlah uang
Dan aku bukanlah manusia impian yang mampu mengubah coretan pena kenangan yang telah terukir dihati
Engkau laksana kupu kupu dengan sejuta misteri
Yang tersimpan menjadi serpihan debu yang menempel pada sayapmu yang memikat hati
Namun harus kurelakan kupu kupu yang pernah singgah sejenak menikmati nektarku
Biarkanlah aku menjadi mawar yang selalu menemanimu disaat engkau lelah
Dan berharap dikala engkau jatuh...
Akar yang rentan ini kan mendekapmu hingga engkau terbaring
Tidak ada komentar:
Posting Komentar