Tanpa kusadari, kugenggam sebuah kunci
Kunci yang membawaku menuju sebuah pintu disudut bagian
terdalam hatiku
Sebuah pintu kenangan yang kusimpan hanya untukmu
Aku teringat akan senyummu yang menghangatkan jiwa
Aku teringat akan suaramu, sebuah harmoni terindah
yang pernah kudengar
Dan aku teringat akan tatapanmu yang melupakanku
akan perbedaan warna hitam dan putih
Rangkaian kata yang tak
bisa kuucapkan
Kini
semakin menumpuk hingga menjadi tumpukan kekecewaan
Yang
menghanyutkanku dalam lautan kelam dibagian terdalam lubuk hati
Mungkinkah
aku akan tetap seperti ini?
Kau memang laksana bunga wijayakusuma
Yang tak pernah kutahu kapan kelopakmu akan terbuka untuk lebah yang tersesat ini
Apakah aku harus menantimu dan menerjang kerasnya
angin dan ombak?
Namun
kini kusadari
Menanti
bukanlah hal yang tepat untuk saat ini
Akan
kuhancurkan dinding nostalgia yang mengingatkanku akan dirimu
Akan kuhantam serpihan
kenangan yang tak pernah bisa kugapai hingga yang tersisa hanyalah Kenyataan
Dan akan kujadikan kau
matahari, yang akan menerangi sudut kelam dihati ini
Tidak ada komentar:
Posting Komentar