12.23
Masih tak kumengerti,
bahkan aku tak menyangka bisa kutemukan kembali kotak yang sudah usang ini. kau
tahu, kotak yang telah lama kupendam dalam-dalam diantara kenyataan dan imaji
yang harus kusetubuhi. Bak menemukan sebuah jati diri yang hilang, aku raba dan
terus meraba tiap inci debu yang menyelimuti kotak usang itu. misterius, tak
berwarna, senyap, namun menenangkan.
Kutarik nafas
dalam-dalam, membiarkan dingin udara malam memenuhi paru-paruku, dan
menghembuskannya setelah sang udara bercumbu dengan oksigen, saling bahu
membahu agar aku dapat merasakan nikmatnya dunia fana. Ternyata benar, sesuatu
yang mereka sebut memori itu benar adanya, ia sakit dan juga menyenangkan, ia
tumbuh dan juga ia rusak, ia ada dan ia samar.
Suara tenangnya si
jangkrik menyadarkanku bahwa sang malam telah menyibakkan kekuasaannya, menelan
sang fajar dibalik bayangnya. ah memang benar, saat ini aku berada dibawah
kekuasaan sang malam, namun bukan berarti pikiranku tertutupi oleh kuasanya. ia
bebas, seperti udara, tak terbatas.
Masih mengagumimu,
memori. kuamati tiap inci tubuhmu, aku melihat sekelebat citra yang
menggambarkanku dimasa lalu, saat jari-jariku bergemulai memainkannya diatas
permukaan keyboard laptop. Merangkai kata-kata indah bertajuk romantisme, ironi
dan moral. melupakan hiruk pikuk kefanaan dunia dan bercumbu dengan ide,
fantasi dan imajinasi. Ah aku merindukannya, sungguh merindukannya.
Tak ada kopi, tak ada
teh dan tak ada cangkir apapun yang menemaniku dimalam ini, saat kutemukan sang
memori. Ia semakin mendesakku untuk terus mengamatinya dan menemukan sosok
dibalik misteri yang tersimpan jauh didalamnya. Sebuah melodi indah yang
kurindukan, biar kuingat apa judul melodi itu. ah, tentu saja, ia berjudul
"Sastra". alunannya begitu indah, sampai-sampai mampu menggetarkan
jiwa, tiap lantunan yang terdengar darinya seperti memeluk siang dan malam
dalam waktu yang bersamaan.
Detak jam terasa begitu
cepat saat aku menikmatimu sastra, aku rela menghabiskan waktu bersamamu, namun
apadaya sang waktu terus memperingatkanku dengan dentuman detik yang terus
bergulir, menggerogoti sisa-sisa waktu yang Dia berikan pada jiwaku. Aku harus
terlelap, merebahkan badanku diatas pulau kapuk, membenamkan mataku tuk membuka
dimensi mimpi. menghilangkan penat yang menyelimuti tubuh ringkih ini, meski
hanya sesaat, sesaat.
(sebuah goresan kecil 'kebangkitan sang sastra' yang terinspirasi dari kawanku, Mas Tutus dan Mba Ina yang telah membangkitkan kembali jiwa menulis yang sudah cukup usang ini. Mungkin jika saya tak membuka profil Mas Tutus, saya tak akan mengenal gubug istimewa itu. Terimakasih telah melemaskan jari-jemari saya dan menemukan memori sastra yang telah hilang.)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar