Social Icons

Pages

Kamis, 21 Juli 2016

Memori

12.23
Masih tak kumengerti, bahkan aku tak menyangka bisa kutemukan kembali kotak yang sudah usang ini. kau tahu, kotak yang telah lama kupendam dalam-dalam diantara kenyataan dan imaji yang harus kusetubuhi. Bak menemukan sebuah jati diri yang hilang, aku raba dan terus meraba tiap inci debu yang menyelimuti kotak usang itu. misterius, tak berwarna, senyap, namun menenangkan.

Kutarik nafas dalam-dalam, membiarkan dingin udara malam memenuhi paru-paruku, dan menghembuskannya setelah sang udara bercumbu dengan oksigen, saling bahu membahu agar aku dapat merasakan nikmatnya dunia fana. Ternyata benar, sesuatu yang mereka sebut memori itu benar adanya, ia sakit dan juga menyenangkan, ia tumbuh dan juga ia rusak, ia ada dan ia samar.


Suara tenangnya si jangkrik menyadarkanku bahwa sang malam telah menyibakkan kekuasaannya, menelan sang fajar dibalik bayangnya. ah memang benar, saat ini aku berada dibawah kekuasaan sang malam, namun bukan berarti pikiranku tertutupi oleh kuasanya. ia bebas, seperti udara, tak terbatas.

Masih mengagumimu, memori. kuamati tiap inci tubuhmu, aku melihat sekelebat citra yang menggambarkanku dimasa lalu, saat jari-jariku bergemulai memainkannya diatas permukaan keyboard laptop. Merangkai kata-kata indah bertajuk romantisme, ironi dan moral. melupakan hiruk pikuk kefanaan dunia dan bercumbu dengan ide, fantasi dan imajinasi. Ah aku merindukannya, sungguh merindukannya.

Tak ada kopi, tak ada teh dan tak ada cangkir apapun yang menemaniku dimalam ini, saat kutemukan sang memori. Ia semakin mendesakku untuk terus mengamatinya dan menemukan sosok dibalik misteri yang tersimpan jauh didalamnya. Sebuah melodi indah yang kurindukan, biar kuingat apa judul melodi itu. ah, tentu saja, ia berjudul "Sastra". alunannya begitu indah, sampai-sampai mampu menggetarkan jiwa, tiap lantunan yang terdengar darinya seperti memeluk siang dan malam dalam waktu yang bersamaan.

Detak jam terasa begitu cepat saat aku menikmatimu sastra, aku rela menghabiskan waktu bersamamu, namun apadaya sang waktu terus memperingatkanku dengan dentuman detik yang terus bergulir, menggerogoti sisa-sisa waktu yang Dia berikan pada jiwaku. Aku harus terlelap, merebahkan badanku diatas pulau kapuk, membenamkan mataku tuk membuka dimensi mimpi. menghilangkan penat yang menyelimuti tubuh ringkih ini, meski hanya sesaat, sesaat.


(sebuah goresan kecil 'kebangkitan sang sastra' yang terinspirasi dari kawanku, Mas Tutus dan Mba Ina yang telah membangkitkan kembali jiwa menulis yang sudah cukup usang ini. Mungkin jika saya tak membuka profil Mas Tutus, saya tak akan mengenal gubug istimewa itu. Terimakasih telah melemaskan jari-jemari saya dan menemukan memori sastra yang telah hilang.)





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
 
Blogger Templates