Senja Menunggu Hari Yang Indah
Kau selalu berdiri menatap matahari, disudut pantai nan permai itu
Membayangkan sang pujaan hati melambai rambutnya yang mulai kusut
Namun semua itu hanyalah sisa dari kenangan manis yang membuatnya gila
Kini merpati tak lagi terbang mengarungi lembutnya ombak langit
Sayap-sayap yang membawanya terbang mengitari awan asmara itu telah patah
pisau yang menyayat-nyayat organ kecil bernama hati, hingga menjadi serpihan yang tak berbentuk lagi
Namun, kau tetap berdiri disana menanti sang merpati yang membawamu kealam yang kelam
Tak peduli seberapa dalam luka yang akan dan selalu datang menghantuimu
Kau tetap menanti
Sang kekasih yang pada awalnya melontarkan kata-kata indah
Kini hanyalah menjadi kenangan yang tak akan pernah tenggelam
Dinding yang menjadi pembatas mimpinya pun semakin terlihat
Dan semakin sulit ditembus..
Mimpi-mimpi yang seharusnya bisa terwujud
Sirna seketika hanya oleh beberapa kata yang keluar dari mulut busuknya itu
Ingin sekali engkau kembali terbang diangkasa nan luas itu
Namun pemburu telah melepaskan isi selongsong peluru
Merpati itu pun terluka dan hanya bisa pasrah menerima peluru sang pemburu
Kini hanya penyesalan yang menyelimuti pikirannya
Tak ada lagi saat-saat indah untuk meraih mimpi membangun istana di langit
Tiada lagi kawanan yang menuntunnya mengarungi samudera
Hanyalah kabut penyesalan yang kelam
Yang menunggunya hingga ia terbaring mati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar